TENTANG PURNAMA
Malam itu
kita bersua
Diatas deru
sepeda
aku menantang malam, mencoba mencari jawab siapa yang lebih dingin
udara malam
atau sikapmu padaku akhir-akhir ini
namun tak
jua kutemukan jawab disela jarak dadaku dan punggungmu yang tak juga makin
merapat.
Sungguh jika
bisa,
ingin kumaki
jok sepeda hingga ciut
semata-mata
hanya agar duduk kita makin dekat.
Tapi
nyatanya beda,
bukannya jok
sepeda, namun nyaliku yang dibuat ciut
untuk
sekedar mencoba membakar bekumu
atau minimal
membuat bara dengan melingkarkan lenganku di bagian bawah jaket yang kau kenakan
Kesal tak
kunjung mendapat harga kehangatan,
perhatianku
teralih pada malam
Ada purnama
menggantung diujung sana,
Seingatku
kau sangat menyukai purnama
ketidaksempurnaan
yang sempurna katamu, ketika menggambarkan benda langit yang kadang masih
terlihat bopengnya meski sudah dibalut pendar gaun warna kuning emas itu
Benar, ia
sangat bulat dan seksi
Tentu saja
kau suka dengan yang bulat-bulat
Tapi, apa ya
pantas kalau aku izin padanya
Untuk mengajakmu
makan malam di restoran agak mewah yang jarang kita kunjungi
-Lengkap
dengan baju agak rapi
yang
biasanya cuma kupakai sesekali waktu misa besar di gereja-
Sekalipun kau
setuju pada mauku tanpa izin purnama,
aku yakin
selama itu kau mungkin akan cenderung tetap menikmati purnama, bercakap-cakap
soal purnama, dan membayang-bayangkan tentang purnama.
Kalau boleh
kubingkai dalam frasa, mungkin ini adalah malam yang paling berbau roman
semenjak aku pertama kali mengenalmu.
Ketika aku
menatapmu, kau menatap purnama, dan purnama menatap cemburu kita berdua
sedang duduk
rapat menyeruput teh hangat,
tak henti
jua berbicara tentangnya.

Komentar
Posting Komentar